NILAI LEBIH GENERASI MUDA

December 30, 2011

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammă Sambuddhassa (3x)

     Manusia dilahirkan melalui proses kanak-kanak, remaja, mengalami usia tua, dan akhirnya mati. Demikian sirklus yang sering didingatkan oleh para senior kepada kita.

     Setelah mengalami masa kanak-kanak, maka masa remaja merupakan masa keemasan bagi suatu sirklus kehidupan manusia. Masa kehidupan ini disebut generasi muda, atau pemuda ~ “youth” bahasa Inggrisnya.

     Dalam Sigalovada Suttanta, yang dikisahkan adalah pemuda malas bernama Sigala. Setelah ayahnya wafat, barulah dia menyesal atas kemalasannya dan berusaha “menebus” dengan cara memenuhi pesan sang ayah. Setiap pagi dia bangun sangat pagi, pergi ke luar Rajagaha. Setelah membasahi rambut dan pakaiannya, kedua tangannya dirangkapkan, beranjali ke berbagai arah, mulai dari Timur, Selatan, Barat,  Utara, Bawah dan Atas. Ketika ditanya oleh Sang Buddha, Sigala berkata bahwa hal tersebut dilakukan sebagai perintah mendiang ayahnya.

Sang Buddha bersabda: “Dalam agama Ariya, anak muda, memuja enam arah bukan begitu caranya”

Mendengar sabda ini, Sigala mohon petunjuk bagaimana seharusnya “memuja enam arah” yang diamanatkan kepadanya itu.

Petunjuk Sang Buddha demikian: “Apabila anak muda, siswa Ariya tersebut telah menyingkirkan empat cacat dalam tingkah laku, apabila ia tidak melakukan perbuatan perbuatan jahat karena dorongan empat sebab, apabila ia tidak melakukan enam jalan untuk menghabiskan harta, dengan demikian ia menjauhkan diri dari empatbelas kejahatan, ia adalah pemuja enam arah bumi dan langit.

Ia melakukan hal-hal tersebut untuk menaklukkan dua dunia (alam), ia akan menikmati hasilnya baik di dunia (alam) ini maupun dunia (alam) yang akan datang.

Pada saat badan jasmaninya hancur setelah mati, ia akan bertumimbal lahir di alam sorga yang bahagia.”

Adapun “potensi” empat cacat yang perlu disingkirkan tersebut adalah:

  1. Memusnahkan makhluk hidup

  2. Mengambil barang yang tidak diberikan

  3. Perbuatan asusila

  4. Mengucapkan kata-kata yang tidak benar.

    Adapun enam arah yang dimaksud oleh ayah Sigala sebenarnya berarti: Timur sebagai ayah dan ibu, Selatan sebagai guru, Barat sebagai istri dan anak, Utara sebagai sahabat dan kenalan, Bawah sebagai buruh atau orang suruhan dan Atas sebagai para pertapa.

Untuk selanjutnya, isi lengkap Sigalovada Sutanta (Digha Nikaya III:31) bisa anda simak sendiri teksnya, antara lain dalam buku “Riwayat Hidup Buddha Gotama”

     Generasi muda mempunyai nilai khusus di tengah masyarakat. Periode kehidupan ini merupakan sokoguru yang dibentuk oleh masyarakat melalui orangtua, guru dan lingkungan masyarakat. Ketiga komponen ini mempunyai peran sangat besar dalam mewujudkan masa depan generasi muda sebagai elemen individu, membentuk komunitas kecil, berkembang menjadi besar sehingga merupakan komunitas negara dan komunitas global.

Dengan nilai lebih kekuatan fisik, kita wajib memelihara, menjaga dan membentuk diri kita sendiri menjadi prima. Melalui aktivitas fisik, kita juga mengisi aktivitas batin. Kita yang mempunyai “nama” dan “rupa” harus terus diisi bagaikan “mengisi air dalam gelas”. Jangan sia-siakan waktu yang demikian sempit untuk mengikuti kemalasan yang sangat merugikan.

Kemarin, melalui wall di Facebooknya, salah seorang junior saya Suriya Dhammo dari Tegal menuliskan” “Selagi kita muda banyak beraktivitas dengan fisik . Selelah usia menjelang senja fisik mulai menurun aktivitas otak ditingkatkan agar dikala fisik kita sudah renta otak kita tidak pikun”

     Nilai lebih generasi muda hendaknya dimaknai dan dipergunakan dengan sebaik mungkin. Janganlah kita rusak sendiri dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Setiap orang punya potensi untuk meningkatkan kualitas hidupnya sendiri.

  Sabbe satta bhavantu sukhitattă.

  Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.

Source: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150240681278774

MUCALINDA (Dragon King)

December 30, 2011

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammă Sambuddhassa (3x)

Demikianlah yang saya dengar.

Pada suatu saat Sang Bhagava sedang tinggal di hutan Uruvela, di dekat sungai Neranjara, di bawah pohon Mucalinda, baru saja beliau mencapai Penerangan Sempurna.

Pada saat itu Sang Bhagava duduk bermeditasi selama tujuh hari menikmati kebahagiaan dari Kebebasan. Saat itu walaupun bukan masanya, terjadilah hujan badai yang besar, dan selama tujuh hari terdapat awan-awan hitam, angin dingin dan cuaca yang tidak menentu. Waktu itu Mucalinda, Raja-Naga, meninggalkan tempat tinggalnya dan sesudah melingkari tubuh Sang Bhagava tujuh kali dengan tubuhnya, dia berdiri dengan kerudung kepalanya yang terbentang di atas kepala Sang Bhagava, (sambil berpikir) untuk melindungi Sang Bhagava dari dingin dan panas, dari pengganggu, nyamuk, angin, matahari, dan sentuhan makhluk-makhluk yang menjalar.

Pada akhir tujuh hari itu, Sang Bhagava berhenti dari meditasi-Nya. Saat itu Mucalinda, Raja-Naga, melihat bahwa langit telah cerah dan awan-awan hujan telah berlalu, melepas lingkaran tubuhnya dari tubuh Sang Bhagava. Dengan merubah penampilannya dan membentuk penampilan sebagai seorang pemuda, dia berdiri di depan Sang Bhagava, dengan tangan dirangkapkan, untuk menghormat beliau.

     Itulah salahsatu bagian dari 84.000 dhamma agung Sang Buddha yang diterjemahkan dari Kitab Udana II:1.

Sudah sering dijelaskan bahwa setelah mencapai penerangan agung di Gaya pada 588 tahun sebelum Masehi, Sang Buddha menikmati 7 minggu keadaan Nibbana. Saat itulah terjadi hal-hal yang menakjubkan. Antara lain diceriterakan bahwa pada minggu kedua beliau memandangi pohon bodhi terus menerus selama satu minggu dengan mata tidak berkedip. Hal ini sebagai cetusan rasa terima kasih karena pohon bodhi telah memberikan tempat berteduh selama meditasi berjuang mencapai penerangan agung. Tapi merasakan keadaan nibbana pada minggu kelima justru Sang Buddha bermeditasi di bawah pohon beringin, sementara pada minggu ketujuh bermeditasi di bawah pohon rajaratana.

     Mucalinda adalah nama pohon yang ditempati Sang Buddha pada minggu keenam. Di tempat itulah raja naga berkepala tujuh yang juga bernama Mucalinda,melihat keadaan cuaca yang “tidak bersahabat”, timbul rasa iba, selanjutnya timbul rasa bakti terhadap Sang Buddha. Naga ini melilitkan tubuhnya sebanyak tujuh kali, sehingga Sang Buddha yang kurus kering merasa hangat. Tubuh Sang Buddha tidak basah karena air hujan dan tidak merasa dingin karena terpaan angin badai. Tujuh kepala naga melindungi Sang Buddha selama tujuh hari.

Pada hari ketujuh minggu keenam, barulah cuaca cerah, sehingga naga Mucalinda melepaskan lilitan dan naungannya. Ia merubah wujudnya menjadi pemuda dan beranjali dihadapan Sang Buddha. Selesai naga Mucalinda melakukan pattipati-puja, Sang Buddha mengucapkan dhamma sbb.:

Berbahagia adalah ketidakterikatan bagi seseorang yang puas hati,

bagi seseorang yang sudah belajar Dhamma dan yang melihat;

berbahagia adalah tidak adanya penderitaan di dunia ini,

mengendalikan diri terhadap makhluk-makhluk hidup;

berbahagia adalah tidak adanya nafsu di dunia ini,

mengalahkan nafsu-nafsu indria;

tetapi menghilangkan kesombongan “aku”,

itu adalah benar-benar kebahagiaan tertinggi. 

Naga Mucalinda telah meningkatkan paramitanya, sehingga meningkat pula pada kelahiran berikutnya.

    Marilah kita bertekad melaksanakan ajaran dhamma dengan baik dan benar, punya peningkatan paham atas semua ajaran luhur Sang Buddha dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita dapat menyempurnakan paramita sehingga lahir dalam alam yang lebih baik.

    Sabbe satta bhavantu sukhitattă.

    Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.

                                                                     

Dalam kehidupan ini ia berbahagia, dalam kehidupan yang akan datang ia juga akan berbahagia, dalam kedua alam kehidupan si pembuat jasa kebaikan berbahagia, ia bergembira dan berbahagia menyaksikan buah dari perbuatannya yang baik

Dhammapada  1:16

 

source:  http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150249860718774

MEMELIHARA SEMANGAT PAHLAWAN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

May 20, 2011

Peringatan Hari Pahlawan 10 November terus berbeda coraknya dari tahun ke tahun. Pada awal kemerdekaan, nuansa penampilan peringatan dengan pakaian pejuang, bambu runcing, perawat Palang Merah yang ditampilkan. Pada saat ini, penampilan demikian sudah tidak relevan.

Sepantasnya, pesan Hari Pahlawan saat ini hendaknya  juga menyadarkan bahwa tidak melakukan korupsi yang merusak sendi-sendi bangsa, tidak melakukan kecurangan pada publik, bahkan membayar pajak dengan baik dan benar juga merupakan pahlawan.

Hal ini bukan berarti bahwa memudarnya pemahaman dan minimnya antusiasme generasi muda akan sejarah bangsa. Untuk mengenal dan mengetahui sejarah para pahlawan negeri ini, mungkin sudah ada sebagian orang malas mencari tahu, karena formatnya dianggap “jadul”. Arus globalisasi dengan kecangihan teknologi informasi  sering belum dimanfaatkan secara maksimal oleh generasi muda untuk mengenal para pahlawan kita.

Saat ini budaya  pop (chating dan penggunaan jaringan facebook) menjadi sangat dominan ketimbang mengetahui sejarah bangsa ini lewat internet, termasuk memahami kepahlawanan para pejuang bangsa Indonesia.

Hari Pahlawan  sesungguhnya menjadi momen penting tidak saja bagi generasi muda, tetapi juga penting bagi generasi sebelumnya.

Kini pemegang roda kehidupan bangsa sudah memasuki generasi ketiga setelah Kemerdekaan Indonesia.  Yang perlu dilaksanakan adalah kesinambungan antar generasi agar spirit Agustus 45 yang melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak pudar.

Jika kita melihat fenomena konflik yang santer terekspose dikalangan elit negeri ini, maka diperlukan keteguhan tekad semua lapisan masyarakat untuk menegakkan superior hukum di negeri kita.

Para pahlawan bukan tidak memiliki tujuan melakukan pelbagai perlawanan terhadap para penjajah yang mencoba merebut bangsa ini dan mereka (para pahlawan) tentu tidak ingin secuil tanah subur ini jatuh pada genggaman para penjajah, sehingga tercapai kemerdekaan yang diinginkan kita semua di Indonesia serta seluruh rakyat Indonesia.

Yang menyedihkan pada saat ini terjadi penjajahan terselubung yang mencekam negeri kita, bahkan sudah melepaskan sebagian wilayah kepada pihak lain. Penjajahan terselubung kita rasakan dalam berbagai segi kehidupan, baik politik, kebudayaan maupun ekonomi.

    Dalam pengertian umat Buddha spirit kepahlawanan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Kerelaan melepaskan kepentingan dan milik kita kepada pihak lain merupakan pengorbanan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal mana tercantum pada kisah para siswa utama Sang Buddha yang senantiasa rela berkorban untuk meningkatkan kualitas hidup sesama mahkluk. Perjuangan Sang Buddha serta para  siswa beliau sebagai “pahlawan kemanusiaan” dapat diteladani oleh umat Buddha.

Spirit kepahlawanan dalam masyarakat majemuk di Indonesia diperlukan untuk membangun masa depan, bukannya menonjolkan kepentingan golongan maupun individu yang hakekatnya mengabaikan perjuangan para pahlawan. Kita wajib menghargai pengorbanan dari pihak lain kepada kita, sebagaimana halnya pahlawan kemerdekaan yang peringatannya dilaksanakan setiap 10 November ini. Kita wajib memeliharasemangat pahlawan dalam masyarakat majemuk.

   Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Sang Triratna senantiasa menunjukkan Jalan Kebenaran bagi kita semua.


Notes no 28

dibuat berkaitan dengan acara

REFLEKSI HARI PAHLAWAN DAN DOA BERSAMA LINTAS AGAMA

Dewan Eksekutif Mahasiswa IAIN WALISONGO SEMARANG 2010

BAGAIKAN MENGISI AIR DALAM GELAS

May 20, 2011

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammăsambuddhassa (3x)

Găravo ca nivăto ca                Santuţţhi ca kataňňută

Kălena dhammasavanam         Etammaňgalamutamam

                             Memiliki rasa hormat, berendah hati

                 Merasa puas dengan yang dimiliki,ingat budi baik orang

                 Dan mendengarkan dhamma pada waktu yang sesuai

                 Itulah berkah utama

     Setiap hari gelas sangat akrab dengan kehidupan kita, karena setiap hari kita menggunakannya. Setiap hari kita mengisi gelas dengan apa yang kita sukai, kita pindahkan isinya, kemudian kita mengisi gelas lagi, kita pindahkan isinya lagi, demikian berkali.kali.

Mendengarkan dhamma bagaikan mengisi air dalam gelas. Kita mengisi batin kita dengan kesejukan dhamma, kemudian kita praktekkan dengan pelatihan batin. Pada kesempatan berikutnya kita isi lagi, kita pindahkan lagi dan kita dapat ambil manfaatnya..


     Mendengarkan dhamma disebut dhammasavană. Hal ini merupakan salahsatu bagian dari Dasa Puňňakiriyă Vatthuni (sepuluh cara untuk berbuat kebajikan/jasa). Ada lima manfaat mendengarkan dhamma, yaitu:

  1. Mengetahui sesuatu yang memang belum pernah didengar

  2. Mengetahui sesuatu lebih luas

  3. Menghilangkan keragu-raguan terhadap dhamma

  4. Memperoleh pengertian yang benar

  5. Memperoleh pikiran yang tenang dan bahagia

 Seperti halnya gelas, batin kita juga kita wajib kita isi, kemudian isinya kita pergunakan. Pada kesempatan berikutnya kita isi lagi, kita pergunakan lagi. Begitulah seterusnya.  Seorang yang memberikan dhammadesana bagaikan penyedia air, air itu diisikan oleh pendengar ke dalam batin yang sudah dipunyai. Setelah diisi, maka dipergunakan. Isinya merupakan lima manfaat yang tersebut di atas.

     Dalam Manggala Sutta, antara lain disebutkan bahwa “mendengar” merupakan salahsatu berkah utama. Mendengar yang dimaksud adalah mendengar yang memperoleh manfaat baik. Untuk mendapatkan manfaat atas sesuatu yang baik, maka kita wajib bersikap diam, bersikap hormat, mengontrol pikiran dan menyadari kata-kata yang memang tidak patut untuk diungkapkan. Kita yakin bahwa dhamma berisi ajaran luhur yang mengajak kita untuk melakukan perbuatan baik (kusala kamma). Untuk melakukan perbuatan baik itu,kita seyogyanya mempunyai tekad untuk membersihkan kilesa (kekotoran batin). Penyembuhan kilesa adalah dengan melakukan dana, sila dan samadhi. Dengan melakukan Jalan Utama beruas delapan, sekaligus kita mengembangkan brahma vihara, yaitu metta (welas asih), karuna (kasih sayang), mudita (bergembira menyaksikan kegembiraan orang lain)  dan upekkha (keseimbangkan batin).

Mengenai Dasa Puňňakiriyă Vatthuni (sepuluh cara untuk berbuat kebajikan/jasa), dapat diperinci sbb:

  1.  DÃNAMAYA               jasa yang diperoleh karena memberikan dana 

  2. SILAMAYA                 jasa yang diperoleh karena telah melaksanakan Sila (kelakuan bermoral)             

  3. BHÃVANÃMAYA        jasa yang diperoleh karena telah melaksanakan Bhavana (perkembangan batin)

  4. UPACÃYAMANA        jasa yang diperoleh karena telah merendahkan hati danmenghormat kepada mereka yang lebih tua

  5. VEYYÃVACCAMAYA  jasa yang diperoleh karena telah membantu serta bersemangat dalam melakukan hal-hal yang patut dilakukan.

  6. PATTIDÃNAMAYA    jasa yang diperoleh karena telah mempersembahkan jasa/kebajikan kepada orang tua/leluhur, para dewa serta semua makhluk. 

  7. PATTÃNUMODÃNAMAYA  jasa yang diperoleh karena telah menerima dan bergembira di dalam ikut menikmati perbuatan baik orang lain   

  8. DHAMMASSAVANÃMAYA  jasa yang diperoleh karena telah mendengarkan dhamma

  9. DHAMMADESÃNAMAYA     jasa yang diperoleh karena telah memberikan khotbah dhamma

  10. DIŢŢHUJU KAMMA MAYA  jasa yang diperoleh karena telah membenarkan pengertian yang salah

    Kita harus aktif, punya adhitthana (tekad) untuk terus meningkatkan diri melalui pembelajaran yang terus menerus. Dengan meningkatnya kualitas hidup, kebijaksanaan akan meningkat, makin tercapailah ketentraman dan kesejahteraan.

Sabbe sattă bhavantu sukhitattă.

 Semoga semua makhluk berbahagia.

Sadhu, sadhu, sadhu.

Notes no 29

ringkasan dhammadesana di Vihara Tanah Putih

Minggu, 12 Desember 2010 pk 07.00 WIB

Sumber: Catatan Facebook  D Henry Basuki

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.