Pertanda Baik



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Asevanā ca bālānaṁ paṇḍitānañca sevanā

Pūjā ca pūjanῑyānaṁ etammaṅgalamuttamaṁ

Tak bergaul dengan orang-orang dungu, bergaul dengan para bijaksanawan

menghormat yang patut dihormat, itulah berkah utama.

Seringkali kita menemukan seseorang menganut suatu kepercayaan hanya berdasarkan konsep demi untuk memperoleh suatu berkah. Sedemikian besar harapan mereka untuk memperoleh berkah, maka seseorang tersebut akan berusaha sekuat tenaga agar dapat melihat serta mengetahui tanda baik dalam bentuk fisik atau tanda alamiah yang mereka pandang dapat menghasilkan kebahagiaan dan keberuntungan. Dalam keadaan demikian, wajar akan timbul suatu perbedaan penafsiran tentang tanda baik antara satu individu dengan individu yang lainnya.

Sewaktu diselenggarakan sebuah pertemuan besar di Rajagaha, seorang pria berdiri dan berjalan keluar dari tempat pertemuan sambil berkata: ’Hari ini adalah pertanda baik’. Seseorang yang mendengarnya menanyakan apakah yang dimaksud dengan tanda baik, lalu seorang lain lagi mengatakan bahwa melihat sesuatu hal yang menguntungkan adalah tanda baik, pendapat tersebut dibantah oleh orang lain dengan mengatakan bahwa mendengar sesuatu yang sangat merdu adalah suatu pertanda yang baik, karena terjadi silang pendapat tentang suatu hal yang baik, maka terjadilah suatu diskusi dan perdebatan tentang pertanda baik, silang pendapat tentang pertanda baik ini merambat sampai ke alam dewa, yang pada akhirnya permasalahan ini sampai juga kepada para dewa.

Satu dewa menyarankan supaya menemui Sang Buddha untuk menyelesaikan permasalahan yang tidak dapat mereka selesaikan. Oleh sebab itu, untuk menyelaraskan perbedaan pendapat di antara mereka, satu dewa mendatangi Sang Buddha yang pada waktu itu sedang bersemayam di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika.

Sang Buddha tidak menyalahkan pandangan satu pihak atau membenarkan pandangan pihak yang lainnya tentang pertanda baik, tetapi Beliau melihat permasalahan itu dari sudut pandang lain, dari wawasan yang tinggi dengan mengemukakan pengertian istilah Maṅgala yang mulia, seperti yang tercantum pada Mahā Maṅgala Sutta.

Mahā Maṅgala Sutta dan Maṅgala Sutta sangat terkenal di seluruh pelosok di negara Buddhis. Sutta ini merupakan rangkuman singkat yang mencakup ajaran agama Buddha tentang sila, penuntun manusia secara pribadi maupun sosial untuk kehidupan yang lebih sejahtera. Kedua sutta tersebut memiliki isi yang sama, kedua-duanya terdapat di dalam kitab Khuddaka Nikāya, Maïgala Sutta terdapat dalam Khuddaka Patha sedangkan Mahā Maṅgala Sutta terdapat di dalam Sutta Nipāta.

Mahā Maṅgala Sutta terdiri dari 12 syair. Syair yang pertama merupakan pertanyaan dewata tentang pertanda baik, sedangkan kesebelas syair lainnya merupakan jawaban Sang Buddha atas pertanyaan tersebut, terdiri dari tiga puluh delapan pertanda baik, yaitu suatu cara untuk mendapatkan berkah yang diharapkan oleh umat manusia dan para dewa. Di dalam ketigapuluh delapan cara tersebut Sang Buddha menjelaskan secara rinci, apa yang disebut dengan Berkah Utama.

Syair keduabelas mengakhiri Mahā Maṅgala Sutta, pencapaian ketigapuluh delapan berkah termulia, ini terlihat pada: Setelah melaksanakan hal-hal yang diajarkan, para dewa dan manusia tidak akan terkalahkan dimanapun juga, mencapai kebahagiaan dimanapun berada. Itulah berkah utama bagi para dewa dan manusia.

Ketigapuluh delapan pertanda baik di dalam Maṅgala Sutta disusun menurut logika dan urutan wajar, pengkajian secara menyeluruh terhadap pertanda baik itu memperlihatkan bahwa mereka tidak hanya merupakan susunan yang logis, tetapi juga berkelompok atas kategori tahap perkembangan dalam Dhamma. Oleh sebab itulah Mahā Maṅgala Sutta perlu dikaji dan dianalisa agar dapat dipahami dan dikelompokkan atas kategori tahap perkembangan Dhamma, dengan demikian akan dapat kita lihat nilai luhur yang terkandung di dalam sutta itu secara menyeluruh.

Sang Buddha menjelaskan sutta dengan alur pikiran mulai dari ringkasan sila dalam aspek negatif dan aspek positif, yaitu tidak bergaul dengan orang-orang dungu, bergaul dengan para bijaksanawan dan menghormat yang patut dihormat. Bagian pertama dari sila itu mengandung anjuran supaya menjauhkan diri dari hal yang merupakan rintangan untuk melakukan perbuatan baik dan bagian kedua menanamkan pentingnya mengendalikan pikiran dan itikad untuk melaksanakan tugas baik yang dianjurkan.

Kemudian diikuti pujian menunaikan kewajiban terhadap orangtua, anak dan istri serta sanak saudara dan orang lain pada umumnya. Sikap dan perbuatan yang baik dalam pergaulan dalam masyarakat, mengunjungi para bijaksana. Setelah itu meningkatkan kehidupan mental dan spiritual sehingga batin tidak tergoncang oleh godaan duniawi. Sutta diakhiri dengan tercapainya asokaṁ, virajaṁ, dan khemaṁ yang merupakan sinonim dari Nibbāna.

Dengan mengusahakan ketigapuluh delapan ajaran yang tertera di Mangala Sutta, manusia tidak terkalahkan dimanapun juga, serta aman pergi berjalan kemanapun juga, itulah Berkah Utama.

Sumber: Maṅgala Sutta

Oleh: Bhikkhu Cittavaro (21 Juni 2009)
Sumber :http://www.dhammacakka.org/index.php?option=com_content&task=view&id=335&Itemid=156

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: