ULASAN SUTTA “Penyebab-penyebab Tindakan” Anguttara Nikaya III, 33



Penyebab-penyebab tindakan

“Para bhikkhu, ada tiga penyebab asal mula tindakan. Apakah yang tiga itu? Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin.

Suatu tindakan yang dilakukan dengan keserakahan, kebencian dan kegelapan (kebodohan) batin; terlahir dari ketiganya, disebabkan oleh ketiganya, muncul dari ketiganya, akan masak dimanapun individu itu terlahir; dan di manapun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah dari tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya.

Para bhikkhu, inilah tiga penyebab asal mula tindakan.

Para bhikkhu, ada tiga penyebab lain untuk asal mula tindakan.

Apakah yang tiga itu? Tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, tanpa- kebodohan-batin.
Jika suatu tindakan yang dilakukan dengan tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian dan tanpa-kebodohan batin; terlahir dari ketiganya, disebabkan oleh ketiganya, muncul dari ketiganya, begitu keserakahan, kebencian dan kebodohan-batin lenyap maka tindakan itu ditinggalkan, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul pohon palma, terhapus sehingga tidak bisa lagi muncul di masa depan.

Para bhikkhu, sama seperti benih-benih yang tidak rusak, tidak busuk, tidak lapuk karena angin dan matahari, yang mampu tumbuh dan ditaruh di ladang yang subur: jika seseorang membakarnya sehingga menjadi abu, kemudian menampi abu itu di angin yang kencang atau membiarkannya terbawa arus yang mengalir deras, maka benih-benih itu akan langsung hancur, lenyap sepenuhnya, dibuat tak mampu bertunas dan tidak lagi bisa muncul di masa depan.
Demikian pula para bhikkhu, tindakan yang dilakukan di dalam tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian dan tanpa-kebodohan batin. Begitu keserakahan, kebencian dan kebodohan-batin telah lenyap, tindakan-tindakan ini ditinggalkan, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul pohon palma, terhapus sehingga tidak lagi bisa muncul di masa depan.

Para bhikkhu, inilah tiga penyebab lain bagi asal mula tindakan.”
(Anguttara Nikaya III, 33)

Inilah ucapan Buddha (sutta atau sutra) yang menunjukkan bahwa dua hal yang mendasar yang melahirkan tindakan kita termasuk ucapan dan pikiran. Beliau mengatakan bahwa selama masih ada keserakahan atau kemelekatan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan-batin (moha) maka akan selalu ada akibat yang pasti diterima. Di ucapan Buddha yang lain, akibatnya jelas dinyatakan berdampak negatif bagi diri sendiri karena berakar dari akar yang tidak baik/bajik (akusala-mula).

Keserakahan (lobha) yang dimaksud mencakup semua tingkatan ketertarikan, dari kemelekatan yang paling halus (kecil) sampai bentuk yang keserakahan atau egoisme yang sangat besar. Kebencian (dosa) yang dimaksud mencakup seluruh tingkat penolakan dari sentuhan yang paling ringan seperti bentuk humor (ada unsur kasar dalam bentuk kata-kata atau visual) sampai bentuk kebencian dalam wujud kemarahan dan dendam yang sangat dalam. Begitu pula istilah kebodohan-batin (moha) atau ketidaktahuan/kegelapan batin (avijja) dari ketidaktahuan yang paling halus sampai ketidaktahuan yang sangat besar seperti kebodohan. Ketidaktahuan yang halus seperti mengetahui bahkan memahami secara intelektual namun tidak dapat terlepas dari penderitaan akibat perubahan walaupun penderitaannya sedikit. Kebodohan yang sangat dalam adalah tidak mau menerima walaupun jelas-jelas dialami dalam kehidupan. Menurut bhikkhu Bodhi—seorang bhikkhu senior penerjemah dan penyunting Samyutta Nikaya, Majjhima Nikaya, Anguttara Nikaya— bahwa kegelapan batin (avijja) sifatnya sama dengan akar buruk kebodohan batin (moha). Apabila Buddha menjelaskan tentang faktor-faktor mental dalam konteks psikologi, beliau menggunakan istilah kebodohan batin, sedangkan Buddha menggunakan istilah kegelapan batin (avijja) apabila beliau menjelaskan akar dari ikatan siklus kehidupan yang berulang-ulang (samsara).

Pengertian terhadap tiga akar penyebab ketidakbahagiaan ini harus benar-benar dipahami sehingga dapat dikikis sampai ke akar-akarnya. Pemahaman secara intelektual hanya sebatas mengerti ketika dipikirkan atau teringat. Yang perlu dikembangkan adalah pemahaman yang merasuk ke dalam diri sehingga menjadi bagian integral (menyatu) dalam diri. Caranya adalah dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Ketika pemahaman telah terwujud melalui tindakan maka tindakannya tidak akan berbuah negatif dan akibatnya telah terhenti. Itulah pikiran yang tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, dan tanpa-kebodohan-batin. Di dalam sutta tersebut, Buddha menjelaskannya dengan perumpamaan benih-benih atau pohon palma yang tidak akan tumbuh (akibat karma tidak ada lagi). Aspek positif dari tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, dan tanpa-kebodohan-batin adalah kedermawanan atau memberi (dana), cinta kasih (metta/maitri) dan kebijaksanaan (panna/prajna).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: