Terorisme & Manusia


Terorisme dan Manusia

Oleh: Rakiman

“Mereka yang merasa malu terhadap apa yang sebenarnya tidak memalukan, dan sebaliknya tidak merasa malu terhadap apa yang sebenarnya memalukan,…mereka yang merasa takut terhadap apa yang sebenarnya tidak menakutkan sebaliknya tidak merasa takut terhadap apa yang sebenarnya menakutkan,…mereka yang menganggap tercela apa yang sebenarnya tidak tercela dan menganggap tidak tercela terhadap apa yang sebenarnya tercela, maka orang yang berpandangan salah seperti ini akan masuk ke dalam sengsara.” (Dhammapada Niraya Vagga: 316-318)

Dewasa ini dalam masyarakat seringkali terjadi tindakan teror yang ditujukan kepada sekelompok manusia dilakukan oleh sekelompok manusia lainnya. Tujuan dari tindakan tersebut bermacam-macam, tujuan apapun namanya jika menimbulkan korban jiwa dan harta benda serta kerugian semua pihak adalah tidak dibenarkan oleh pihak manapun.

Bercermin dari kenyataan tersebut, manusia itu sendiri sebenarnya juga diganggu oleh terorisme, terorisme ini tidak akan nampak jelas didepan mata dan berbentuk sebagai sosok makhluk manusia atau lainnya. Melainkan ada didalam diri manusia itu sendiri yaitu berupa pikiran Lobha (keserakahan), Dosa (kebencian) dan Maha (kebodohan batin). Karena ketiga terorisme tersebut manusia dapat berbuat dan bertindak melalui pikiran, ucapan dan badan jasmani yang merugikan dirinya sendiri. Oleh karenanya manusia dapat bertindak tanpa rasa malu yang sebenarnya memalukan dan tidak mempunyai rasa takut yang sebenarnya menakutkan serta melakukan segala perbuatan tercela. Segala tindakannya itu selalu bersekutu dengan pikiran keserakahan, kebencian dan kebodohan batin tanpa disadarinya.

Terorisme ini akan mengakibatkan kerugian bagi manusia yang bersangkutan berupa kelahiran dalam kehidupan berikutnya di alam sengsara yang penuh dengan penderitaan, seperti terlahir di alam setan, alam raksasa dan alam neraka serta alam binatang. “Semua makhluk dilahirkan menjadi (peta) dan raksaksa asura (asurakaya) dengan kekuatan Lobha, semua makhluk dilahirkan di alam neraka (niraya) dengan kekuatan dosa, semua makhluk dilahirkan menjadi binatang (tiracchanayoni) dengan kekuatan Moha.” (Abhidhammatasanghaha: 20-21)

Ketiga terorisme ini tidak akan pernah pergi dengan sendirinya meninggalkan manusia, melainkan akan selalu mengikuti kemanapun manusia itu pergi dan dimanapun sedang berada. Buddha Gotama mengajarkan kepada umat Buddha untuk melatih Sati atau kewaspadaan diri dan pengendalian diri yang berguna untuk menangkal terorisme itu menyerang manusia yang bersangkutan. “…melakukan pengamatan jasmani terhadap jasmani, berusaha, sadar dan mengendalikan dirinya;…melakukan pengamatan perasaan terhadap perasaan, berusaha , sadar dan mengendalikan dirinya;…melakukan pengamatan terhadap pikiran, berusaha, sadar dan mengendalikan dirinya;…melakukan pengamatan fenomena terhadap fenomena, berusaha, sadar dan mengendalikan dirinya maka keserakahan dan kesedihan akan teratasi.” (Mahasatipatthana Sutta:46)

Manfaat dari latihan tersebut adalah: “Mereka yang mengetahui apa yang tercela sebagai tercela dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela; maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu akan masuk alam bahagia.” (Dhammapada, Niraya Vagga: 319)

Dengan mengetahui ini seharusnya umat Buddha senantiasa melatih dan mengembangkan kewaspadaan diri (sati) disertai pengendalian diri agar tidak terjebak dalam teror pikiran Lobha (keserakahan), Dosa (kebencian) dan Maha (kebodohan batin) yang menjerumuskan manusia pada penderitaan.

“Mereka yang merasa malu terhadap apa yang sebenarnya tidak memalukan, dan sebaliknya tidak merasa malu terhadap apa yang sebenarnya memalukan,…mereka yang merasa takut terhadap apa yang sebenarnya tidak menakutkan sebaliknya tidak merasa takut terhadap apa yang sebenarnya menakutkan,…mereka yang menganggap tercela apa yang sebenarnya tidak tercela dan menganggap tidak tercela terhadap apa yang sebenarnya tercela, maka orang yang berpandangan salah seperti ini akan masuk ke dalam sengsara.” (Dhammapada Niraya Vagga: 316-318)

Dewasa ini dalam masyarakat seringkali terjadi tindakan teror yang ditujukan kepada sekelompok manusia dilakukan oleh sekelompok manusia lainnya. Tujuan dari tindakan tersebut bermacam-macam, tujuan apapun namanya jika menimbulkan korban jiwa dan harta benda serta kerugian semua pihak adalah tidak dibenarkan oleh pihak manapun.

Bercermin dari kenyataan tersebut, manusia itu sendiri sebenarnya juga diganggu oleh terorisme, terorisme ini tidak akan nampak jelas didepan mata dan berbentuk sebagai sosok makhluk manusia atau lainnya. Melainkan ada didalam diri manusia itu sendiri yaitu berupa pikiran Lobha (keserakahan), Dosa (kebencian) dan Maha (kebodohan batin). Karena ketiga terorisme tersebut manusia dapat berbuat dan bertindak melalui pikiran, ucapan dan badan jasmani yang merugikan dirinya sendiri. Oleh karenanya manusia dapat bertindak tanpa rasa malu yang sebenarnya memalukan dan tidak mempunyai rasa takut yang sebenarnya menakutkan serta melakukan segala perbuatan tercela. Segala tindakannya itu selalu bersekutu dengan pikiran keserakahan, kebencian dan kebodohan batin tanpa disadarinya.

Terorisme ini akan mengakibatkan kerugian bagi manusia yang bersangkutan berupa kelahiran dalam kehidupan berikutnya di alam sengsara yang penuh dengan penderitaan, seperti terlahir di alam setan, alam raksasa dan alam neraka serta alam binatang. “Semua makhluk dilahirkan menjadi (peta) dan raksaksa asura (asurakaya) dengan kekuatan Lobha, semua makhluk dilahirkan di alam neraka (niraya) dengan kekuatan dosa, semua makhluk dilahirkan menjadi binatang (tiracchanayoni) dengan kekuatan Moha.” (Abhidhammatasanghaha: 20-21)

Ketiga terorisme ini tidak akan pernah pergi dengan sendirinya meninggalkan manusia, melainkan akan selalu mengikuti kemanapun manusia itu pergi dan dimanapun sedang berada. Buddha Gotama mengajarkan kepada umat Buddha untuk melatih Sati atau kewaspadaan diri dan pengendalian diri yang berguna untuk menangkal terorisme itu menyerang manusia yang bersangkutan. “…melakukan pengamatan jasmani terhadap jasmani, berusaha, sadar dan mengendalikan dirinya;…melakukan pengamatan perasaan terhadap perasaan, berusaha , sadar dan mengendalikan dirinya;…melakukan pengamatan terhadap pikiran, berusaha, sadar dan mengendalikan dirinya;…melakukan pengamatan fenomena terhadap fenomena, berusaha, sadar dan mengendalikan dirinya maka keserakahan dan kesedihan akan teratasi.” (Mahasatipatthana Sutta:46)

Manfaat dari latihan tersebut adalah: “Mereka yang mengetahui apa yang tercela sebagai tercela dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela; maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu akan masuk alam bahagia.” (Dhammapada, Niraya Vagga: 319)

Dengan mengetahui ini seharusnya umat Buddha senantiasa melatih dan mengembangkan kewaspadaan diri (sati) disertai pengendalian diri agar tidak terjebak dalam teror pikiran Lobha (keserakahan), Dosa (kebencian) dan Maha (kebodohan batin) yang menjerumuskan manusia pada penderitaan.

Sumber: http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Buddha&id=17651

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: