Kisah Jataka : “ANGSA EMAS “


Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x)

Apabila seseorang menjumpai orang bijak

Yang bisa menunjukkan kesalahannya

Bagaikan menunjukkan harta karun,

Maka hendaknya ia bergaul dengan orang bijak itu

Alangkah baiknya bagi seseorang untuk bergaul

Dengan orang bijak itu

(Dhammapada VI:1 = 76)


Download lagu Angsa Emas-CristineLee.mp3

Download lagu Angsa Emas-CristineLee.mp3

Kisah kelahiran Sang Bodhisatva sebelum mencapai Penerangan Agung pada kehidupan terakhir sebagai manusia Siddhartha Gautama di-rangkum dalam kitab Jătaka. Kitab ini memuat kelahiran beliau yang menyempurnakan paramita sehingga tercapainya Nirwana.

Salahsatu kisahnya beru pa “Mahahamsa Jătaka”, yang terukir juga se bagai relief di Candi Borobudur menceritera kan suatu ketika Ratu Khemă, permisuri Raja Kăsi bernama Samyama dari Benares bermimpi menyaksikan angsa berwarna keemasan duduk di tahta kerajaan mengkhotbahkan tentang  Hukum Kebenaran dengan suara merdu. Khotbah itu terhenti karena Ratu Khemă terbangun dengan masih menyisakan gambaran bahwa angsa-angsa tersebut terbang melalui  jendela.Dengan keyakinan bahwa angsa emas itu ada, maka Ratu Khemă mohon kepada suaminya untuk mencarikan angsa emas  guna dapat mewujudkan apa yang pernah diimpikan.

Raja Samyama mengundang para brahmana serta semua penasehatnya, akhirnya didapat informasi bahwa ada sekelompok angsa berbulu keemasan berdiam di gunung Cittakūţa dibawah pimpinan raja angsa bernama Dhataraţţha.

Raja Samyama kemudian membangun danau Khema di Vanarasi di daerah Cittakūţa, dengan dijaga oleh para pemburu terpilih dengan tujuan dapat menangkat “angsa emas” untuk diberikan kepada Ratu Khemă. Para pemburu penjaga danau tersebut disebut Khemaka.

Kepada para pemburu tersebut Raja memerintahkan untuk menangkap angsa emas serta membawanya ke kerajaan. Cara menangkapnya, jelas para pemburu tersebut memasang jerat.

Menyaksikan keindahan danau, sebenarnya Raja Dhataraţţha sudah curiga, namun didesak oleh rakyatnya yang berjumlah 90.000 agar diijinkan mengunjungi Danau Khema. Untuk itu Raja Dhataraţţha mengawal sendiri seluruh rakyatnya mengunjungi dan bersenang-senang di Danau Khema. Dalam kunjungan tersebut, sang raja kena jerat. Dalam keadaan bahaya ini, Patih Sumukha tetap menemani Raja Dhataraţţha, bahkan kepada pemburu Khemaka minta dirinya menggantikan sang raja angsa yang bijaksana. Inilah nilai persaudaraan sejati dalam ceritera ini. Dalam persaudraan kita bersama dalam suka dan tidak meninggalkan saudara dalam kesulitan.

Kisah selanjutnya, Raja angsa Dhataraţţha disertai Patih angsa Sumukha dipersembahkan kepada Raja Samyama yang bergembira dapat memenuhi kehendak Ratu Khemă.

Raja dan patih kalangan unggas ini diperlakukan sangat terhormat oleh raja, karena memang tujuan ditangkapnya adalah untuk mendengarkan “khotbah Kebenaran”. Para unggas ini ditempatkan pada tempat yang lebih tinggi dari raja, Dalam paparannya, Raja Dhataraţţha menjelaskan bahwa sebenarnya Raja Samyama tidak menyatakan yang benar. Sikapnya membangun danau Khema yang demikian indah telah menjebak para angsa untuk menikmati, sedangkan tujuannya untuk menangkap angsa. Raja menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud menyakiti, namun berkeinginan menangkap angsa emas untuk mendengarkan “uraian Kebenaran”. Untuk itu Raja Samyama menyatakan penyesalan dan mohon maaf. Raja angsa Dhataraţţha menjelaskan bahwa tidak ada dari kita yang bisa bebas dari akibat perbuatan kita sendiri. Bila kita berusaha menata kehidupan baik, menata kehidupan yang ada disekitar kita dengan baik, maka kita akan memperoleh hasil yang baik dan menyenangkan.

Selama satu malam, seluruh karabat kerajaan temasuk menteri dan para penguasa negara mendengarkan khotbah Sang Raja Emnas. Ketika matahari telah terbit, dengan sangat hormat Raja Samyama beserta Permaisuri Khemă melepaskan Raja Dhataraţţha dan Patih Sumukha melalui jendela istana, terbang kembali ke habitatnya di Gua Emas dalam wilayah Cittakuţa.

Setelah melalui berkali-kali tumimbal lahir, maka pemburu Khemaka lahir sebagai Chana, Ratu Khemă adalah Bhikkhuni Khemă, Raja Samyama adalah Săriputra, Sumukha adalah Ãnanda, Raja Dhataraţţha adalah Sang Buddha dan 90.000 ekor angsa emas adalah para siswa Buddha.

Kisah Jataka ini dipentaskan berupa sendratari di Jakarta oleh  Yayasan Vidyadassa pada bulan Juli 2010. Tujuannya untuk mewartakan pesan moral kemanusiaan melalui karya seni yang berkualitas.

Kita yang hidup di tengah masyarakat masa kini, tidak mudah mewujudkan persaudaraan sejati baik dalam suka maupun dalam duka. Kisah Angsa Emas mewartakan pesan persaudaraan yang tulus tanpa memperhitungkan untung rugi.

Juga pementasan sendratari Angsa Emas (The Golden Swan) merupakan karya seni bangsa Indonesia, mengangkat budaya “lokal” yang seolah “hampir” tergusur globalisasi. Kita punya ajaran moral yang luhur, kita punya bahasa yang luhur, kita punya filsafat yang luhur, kita punya kebudayaan yang luhur. Semua itu merupakan warisan berharga dari nenekmoyang yang wajib kita tampilkan.

Dengan mengingat dan mempraktekkan ajaran moral, kualitas diri dapat  meningkat. Kita bisa memahami nilai pengorbanan untuk sesama dalam membangun kedamaian. Tekad untuk terus meningkatkan diri melalui pembelajaran terus menerus harus ada pada diri kita. Dengan meningkatnya kualitas hidup, kebijaksanaan kita akan bertambah.

Sabbe satta bhavantu sukkhitatta.

Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.

Sumber : Ringkasan dhammadesana di Vihara Tanah Putihm, Minggu, 5 September 2010 pk 07.00 WIB


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: