Kisah Jataka : “ANGSA EMAS Pencerah Batin”


Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x)

Sukă matteyyată loke

Athopetteyyată sukkhă

Sukkă sămaňňată loke

Attho brahmannată sukkă

Menghormati ibu membawa kebahagiaan,

Menghormati ayah juga membawa kebahagiaan.

Melayani para bhikkhu membawa kebahagiaan,

Memuja para Ariya membawa kebahagiaan

.                                                                           (Dhammapada 23:13 = 332)

ch197

 

Download lagu Angsa Emas-CristineLee.mp3

Download lagu Angsa Emas-CristineLee.mp3

Kitab JATAKA adalah cerita tumimbal lahir Sang Bodhisatva sebelum mencapai pencerahan ketika kelahiran beliau pada terakhir kali sebagai manusia laki-laki bernama Siddharta, bermarga Gotama dalam sukubangsa Sakya.

Perjalanan hidup ini menurut guru kami Romo Mangunkawatja adalah 550 kali,

Menyimak apa yang tercantum dalam Jataka, tidak kita dapati muatan seperti dongeng sebelum tidur seperti halnya cerita kancil, Timun Emas, raksasa pemakan manusia, Cindelella, atau dongeng modern Dora Emon, Unyil bahkan Upin & Ipin sekalipun. Jataka sarat akan nilai keteladanan yang membawa pada pencerahan batin.

Kalau beberapa waktu lampau saya uraikan kisah Angsa Emas yang sudah dipentaskan berupa sendratari indah di Jakarta, kali ini saya uraikan ringkas Rohantamiga Jataka, cerita tentang rusa berbulu emas yang membabarkan “hukum kebenaran” juga.

Ketika pemerintahan Raja Brahmadatta di Benares, Ratu Khema bermimpi bahwa seekor rusa berbulu keemasan duduk di singgasana raja membabarkan Hukum Kesunyataan. Dari mimpi ini sang ratu minta pada suaminya untuk membawa “rusa emas” ke istana agar Ratu Khema dapat mendengarkan khotbahnya.

Perintah raja lagi-lagi pada pemburu, dan pemburu memasang jerat. Yang kena jerat adalah raja rusa bernama Rohanta, Sang Bodhisatva yang akan terlahir terakhir kalinya sebagai Pangeran Siddhartha, mempunyai rakyat 80.000 ekor rusa, punya tanggungan merawat ayah ibunya yang sudah tua dan buta. Katika kena jerat, adik jantannya bernama Cittamigga dan adik betinanya bernama Sutanta menunggu saudaranya. Sang pemburu yang menjerat berdialog dengan ketiga rusa tadi. Dia bertanya, mengapa satu rusa kena jerat, dua rusa menunggu, bukannya lari menyelamatkan diri. Raja Rusa Rohanta menjelaskan bahwa kedua rusa jantan betina adalah saudaranya, mereka lahir dari ayah dan ibu yang sama. Keduanya tidak meninggalkan saudara yang mengalami musibah, celaka kena jerat.

Kata-kata tersebut membuat sang pemburu terharu. Selanjutnya Cittamiga menjelaskan, bahwa Raja Rusa Rohanta saudaranya adalah pemimpin bijaksana yang berani berkorban demi keselamatan 80.000 ekor rusa rakyatnya, bahkan sekarang merawat ayah ibunya yang buta dalam gua. Sang pemburu merenung. Kalau dia membunuh Rusa Rohanta, maka 80.000 ekor rusa akan kehilangan pemimpin sehingga ada kemungkinan akan tercerai berai dan tidak terjaga kelestarian hidupnya, ditambah lagi dua rusa tua yang buta akan mati tanpa perawatan. Dengan perenungan ini, sang pemburu kemudian melepaskan Raja Rusa Rohanta. Setelah dibebaskan, Raja Rusa baru mengetahui bahwa pemburu ini sebenarnya mengemban tugas untuk mempersembahkan “rusa emas” kepada Raja Brahmadatta. Rusa Rohanta minta sang pemburu mengusap punggung rusa dengan kedua tangannya. Yang terjadi, bulu rusa keemasan menempel pada tangan sang pemburu. Dengan tempelan bulu tersebut sang pemburu dapat menceriterakan bahwa dia telah bertemu dengan “Rusa Emas”, dan dengan kekuatan bulu itu pulalah sang pemburu dapat mengulang pemba- baran tentang “Hukum Kesunyataan” yang didengar dari Rusa Rohanta.

Raja mendengar awal pembabaran merasa bahagia, mempersilahkan sang pemburu duduk pada singgasana. Setelah selesai pembabaran Raja Brahmadatta menghadiahkan sebuah subang permata, seratus keping emas serta sejumlah hewan peliharaan. Ternyata Sang Pemburu tidak bersedia menerimanya, bahkan pamit kepada Raja Brahmadatta untuk meninggalkan keduniawian menjadi pertapa. Raja kemudian mengirimkan hadiah untuk sang pemburu kepada istri dan keluarganya.

Setelah itu Sang pemburu menuju ke lereng pengunungan Himalaya melatih Delapan Jalan Yang Utama, kehidupan berikutnya terlahir di alam Brahma. Raja Brahmadatta yang melaksanakan kebajikan karena memahami Hukum Kesunyataan setelah kematiannya terlahir dalam alam surga. Isi khotbah Rusa Rohanta tentang perbuatan bajik seseorang kepada ajah bunda, istri dan anak, demikian juga perbuatan bajik terhadap para pertapa, memelihara alam semesta serta segenap hewan sebagai penunjang ego sistemnya. Dengan melaksanakan hal ini, pada kelahiran berikutnya paling tidak akan terlahir dalam alam sorga.

Sabbe satta bhavantu sukkhitatta.

Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.

Sumber : Ringkasan dhammadesana di Vihara Tanah Putih BY D Henry Basuki, Minggu, 3 Oktober 2010 pk 07.00 WIB


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: