MEMELIHARA SEMANGAT PAHLAWAN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK


Peringatan Hari Pahlawan 10 November terus berbeda coraknya dari tahun ke tahun. Pada awal kemerdekaan, nuansa penampilan peringatan dengan pakaian pejuang, bambu runcing, perawat Palang Merah yang ditampilkan. Pada saat ini, penampilan demikian sudah tidak relevan.

Sepantasnya, pesan Hari Pahlawan saat ini hendaknya  juga menyadarkan bahwa tidak melakukan korupsi yang merusak sendi-sendi bangsa, tidak melakukan kecurangan pada publik, bahkan membayar pajak dengan baik dan benar juga merupakan pahlawan.

Hal ini bukan berarti bahwa memudarnya pemahaman dan minimnya antusiasme generasi muda akan sejarah bangsa. Untuk mengenal dan mengetahui sejarah para pahlawan negeri ini, mungkin sudah ada sebagian orang malas mencari tahu, karena formatnya dianggap “jadul”. Arus globalisasi dengan kecangihan teknologi informasi  sering belum dimanfaatkan secara maksimal oleh generasi muda untuk mengenal para pahlawan kita.

Saat ini budaya  pop (chating dan penggunaan jaringan facebook) menjadi sangat dominan ketimbang mengetahui sejarah bangsa ini lewat internet, termasuk memahami kepahlawanan para pejuang bangsa Indonesia.

Hari Pahlawan  sesungguhnya menjadi momen penting tidak saja bagi generasi muda, tetapi juga penting bagi generasi sebelumnya.

Kini pemegang roda kehidupan bangsa sudah memasuki generasi ketiga setelah Kemerdekaan Indonesia.  Yang perlu dilaksanakan adalah kesinambungan antar generasi agar spirit Agustus 45 yang melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak pudar.

Jika kita melihat fenomena konflik yang santer terekspose dikalangan elit negeri ini, maka diperlukan keteguhan tekad semua lapisan masyarakat untuk menegakkan superior hukum di negeri kita.

Para pahlawan bukan tidak memiliki tujuan melakukan pelbagai perlawanan terhadap para penjajah yang mencoba merebut bangsa ini dan mereka (para pahlawan) tentu tidak ingin secuil tanah subur ini jatuh pada genggaman para penjajah, sehingga tercapai kemerdekaan yang diinginkan kita semua di Indonesia serta seluruh rakyat Indonesia.

Yang menyedihkan pada saat ini terjadi penjajahan terselubung yang mencekam negeri kita, bahkan sudah melepaskan sebagian wilayah kepada pihak lain. Penjajahan terselubung kita rasakan dalam berbagai segi kehidupan, baik politik, kebudayaan maupun ekonomi.

    Dalam pengertian umat Buddha spirit kepahlawanan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Kerelaan melepaskan kepentingan dan milik kita kepada pihak lain merupakan pengorbanan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal mana tercantum pada kisah para siswa utama Sang Buddha yang senantiasa rela berkorban untuk meningkatkan kualitas hidup sesama mahkluk. Perjuangan Sang Buddha serta para  siswa beliau sebagai “pahlawan kemanusiaan” dapat diteladani oleh umat Buddha.

Spirit kepahlawanan dalam masyarakat majemuk di Indonesia diperlukan untuk membangun masa depan, bukannya menonjolkan kepentingan golongan maupun individu yang hakekatnya mengabaikan perjuangan para pahlawan. Kita wajib menghargai pengorbanan dari pihak lain kepada kita, sebagaimana halnya pahlawan kemerdekaan yang peringatannya dilaksanakan setiap 10 November ini. Kita wajib memeliharasemangat pahlawan dalam masyarakat majemuk.

   Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Sang Triratna senantiasa menunjukkan Jalan Kebenaran bagi kita semua.


Notes no 28

dibuat berkaitan dengan acara

REFLEKSI HARI PAHLAWAN DAN DOA BERSAMA LINTAS AGAMA

Dewan Eksekutif Mahasiswa IAIN WALISONGO SEMARANG 2010


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: